Dimalam panjang nansepi
.
.
Lama sudah tidak hadir
untuk mengisih cerita yang sebelumnya masih memiliki cerita lama, bersama
dengan cinta lama. Namun untuk beberapa bulan ini, kesendirianlah yang
menemani, ntah itu setiap malam bahkan untuk setiap waktunya. Rasa sakit bahkan
kecewa yang telah ia tinggalkan sebagai kado untuk kenang-kenangan itu begitu
perih hingga membuatku berusaha untuk berjuang melepaskan keperihan itu. Hadir
lagi bukan untuk menceritakan tentang bagaimana cara berpisah dan bukan juga
menceritakan tentang alur mengapa terpisah. Banyak hal yang ingin diluapkan.
Tentang masalalu, masa sekarang , bahkan masa depan yang ujung nya masih
terlihat buram.
Yeppp, kuceritakan awal
dimana aku harus meninggalakan cerita untuk kuceritakan pada dinding yang mengetahui
seluk beluk perasaan ini. Dan disini aku. Seorang yang sudah berjuang dalam
masamasa berat menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negri. Perjuangan yang
takkan mampu kulupakan, bahkan dibandingkan dengan melupakan masalalu.
Perjuangan itu begitu berat, dimulai dari menghadapi ujian nasional yang
akhirnya lulusan dengan nilai memuaskan. Berlanjut untuk berjuang mendapati
universitas yang diinginkan, kutekadkan niat untuk merantau kepulau tetangga
dengan modal niat dan kemauan. Satu bulan mengadu nasip disana, bimbel dan
mencoba berbaur untuk mencari kenyamanan, semua karna mimpi dan dorongan untuk
selalu berjuang demi kedua orang tua. Tekad untuk bisa diterima di universitas
negri, agar tidak menyusahkan orang tua dalam membiayai kuliah jika halnya aku
harus diterimah di universitas swasta. Perjuangan satubulan kulewati dengan
niat yang membabi buta, hingga suatu hari ketika orang tua tidak
memperbolehkanku mendaftar di universitas di ujung pulau sana. Ntahlah aku tidak pernah mendapatkan jawaban
yang pasti kenapa keterlarangan ada dihadapanku. Sontak kuberfikir ini adalah ilihan sulit,
bahkan lebih sulit dari pada mengerjakan soal trigonometri ketika ujian
nasional. Mimpi selalu memberontakku
untuk selalu memilihnya dan diri ini tak sanggup menerima penolakkan dari kedua
orang tua jika mereka tahu aku ingin memilih mimpi itu. Mimpi untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa
di universitas negri yang diri ini inginkan di ujung pulau sana. Ntah apa yang
aku pikirkan, tapi inilah aku dengan mimpi yang masih membeluti angan-anganku.
Saat ujian itu tiba,
aku pasrah dengan pilihanku. Kucoba untuk memilih pilihan yang disarankan orang
tuaku dan menyelipkan mimpi di antara pilihan-pilihan tersebut. Tak satu jalan
kucoba. Jika aku harus gagal pada satu jalur, maka akan kucoba 1000 jalur agar
aku dapat lulus di universitas negri. Hingga kuberjuang dari awal sampai akhir
yang tak dapat kuceritakan bagaimana pahitnya kubersembunyi dari ketidaktahuan
orangtuaku atas pilihan-pilihan yangkupilih. Dan pada akhirnya jalur demi jalur
kulalui dengan kecewa karna ketidak terimaan yang membuatku harus patah. Namun
tidak untuk yang satu ini, jalur yang disarankan oleh orangtuaku namun bukan
untukku. Kenapa? Inilah yang masih aku pertanyakan pada diriku yang sudah
menjajaki semester ke II di universitaspilihan orangtuaku dan ditempat mereka
inginkan. Mungkin inilah yang dinamakan
“the power of parent
prays”
Sudahlah, tak banyak yang dapat aku lakukan. Hanya rasa syukur yang kulantunkan untuk
menjadi bunga-bunga yang disiramkan pada kuburan mimpi-mimpi yang sudah
kukuburkan. Hal yang masih ku syukurkan adalah dimana aku dapat melapangkan beban
orang tua yang sebelumnya kutekadkan untuk mendapatkan universitas negri. Namun
lain hal nya dengan mimpi yang masih kusimpan bahkan sudah kukuburkan
dalam-dalam dalam hati ini. Bukan ditempat ini:’)
Kujalani hari demi hari ditempat ini, aku sudah berinjak pada
semester II yang membuatku lelah dengan hapalah dan hapalan yang membuat otak
tak mampu untuk mengingat masa lalu karna telah penuh dengan memori untuk di
responsikan pada bidangnya masing-masing. Seiring berlalu, mimpi itu masih saja
tetap hidup dihati ini, ntah ia sudahku kuburkan dengan sepenuh hati ntah ia
memang harus tetap hidup. Sempat terfikir untukku mencoba mengulang kembali
pada mimpi itu. Mimpi untuk menjadi seseorang yang hidup dipulau ujung seberang
sana. Namun kuberfikir, tidakkah kusudahmenghabiskan biaya dengan kehidupan yang
sekarang? Namun ketahuilah, aku tidak memiliki titik nyaman disini, baik itu
dari segi hati, kehidupan dikampus, tempat tinggal bahkan lingkungan sekalipun,
yang hati ini tak dapat menahan untukku merindukan suasaan rumah, teman-teman
yang entah dimana, bahkan untuk menahan kesendirian hati yang kurasa ntah kapan
akan merasa lelah :’)
