Kamis, 21 April 2016

kembali setelah dia pergi

Dimalam panjang nansepi
.
.
Lama sudah tidak hadir untuk mengisih cerita yang sebelumnya masih memiliki cerita lama, bersama dengan cinta lama. Namun untuk beberapa bulan ini, kesendirianlah yang menemani, ntah itu setiap malam bahkan untuk setiap waktunya. Rasa sakit bahkan kecewa yang telah ia tinggalkan sebagai kado untuk kenang-kenangan itu begitu perih hingga membuatku berusaha untuk berjuang melepaskan keperihan itu. Hadir lagi bukan untuk menceritakan tentang bagaimana cara berpisah dan bukan juga menceritakan tentang alur mengapa terpisah. Banyak hal yang ingin diluapkan. Tentang masalalu, masa sekarang , bahkan masa depan yang ujung nya masih terlihat buram.
Yeppp, kuceritakan awal dimana aku harus meninggalakan cerita untuk kuceritakan pada dinding yang mengetahui seluk beluk perasaan ini. Dan disini aku. Seorang yang sudah berjuang dalam masamasa berat menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negri. Perjuangan yang takkan mampu kulupakan, bahkan dibandingkan dengan melupakan masalalu. Perjuangan itu begitu berat, dimulai dari menghadapi ujian nasional yang akhirnya lulusan dengan nilai memuaskan. Berlanjut untuk berjuang mendapati universitas yang diinginkan, kutekadkan niat untuk merantau kepulau tetangga dengan modal niat dan kemauan. Satu bulan mengadu nasip disana, bimbel dan mencoba berbaur untuk mencari kenyamanan, semua karna mimpi dan dorongan untuk selalu berjuang demi kedua orang tua. Tekad untuk bisa diterima di universitas negri, agar tidak menyusahkan orang tua dalam membiayai kuliah jika halnya aku harus diterimah di universitas swasta. Perjuangan satubulan kulewati dengan niat yang membabi buta, hingga suatu hari ketika orang tua tidak memperbolehkanku mendaftar di universitas di ujung pulau sana.  Ntahlah aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti kenapa keterlarangan ada dihadapanku.  Sontak kuberfikir ini adalah ilihan sulit, bahkan lebih sulit dari pada mengerjakan soal trigonometri ketika ujian nasional.  Mimpi selalu memberontakku untuk selalu memilihnya dan diri ini tak sanggup menerima penolakkan dari kedua orang tua jika mereka tahu aku ingin memilih mimpi itu.  Mimpi untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa di universitas negri yang diri ini inginkan di ujung pulau sana. Ntah apa yang aku pikirkan, tapi inilah aku dengan mimpi yang masih membeluti angan-anganku.
Saat ujian itu tiba, aku pasrah dengan pilihanku. Kucoba untuk memilih pilihan yang disarankan orang tuaku dan menyelipkan mimpi di antara pilihan-pilihan tersebut. Tak satu jalan kucoba. Jika aku harus gagal pada satu jalur, maka akan kucoba 1000 jalur agar aku dapat lulus di universitas negri. Hingga kuberjuang dari awal sampai akhir yang tak dapat kuceritakan bagaimana pahitnya kubersembunyi dari ketidaktahuan orangtuaku atas pilihan-pilihan yangkupilih. Dan pada akhirnya jalur demi jalur kulalui dengan kecewa karna ketidak terimaan yang membuatku harus patah. Namun tidak untuk yang satu ini, jalur yang disarankan oleh orangtuaku namun bukan untukku. Kenapa? Inilah yang masih aku pertanyakan pada diriku yang sudah menjajaki semester ke II di universitaspilihan orangtuaku dan ditempat mereka inginkan. Mungkin inilah yang dinamakan
“the power of parent prays”
Sudahlah, tak banyak yang dapat aku lakukan.  Hanya rasa syukur yang kulantunkan untuk menjadi bunga-bunga yang disiramkan pada kuburan mimpi-mimpi yang sudah kukuburkan. Hal yang masih ku syukurkan adalah dimana aku dapat melapangkan beban orang tua yang sebelumnya kutekadkan untuk mendapatkan universitas negri. Namun lain hal nya dengan mimpi yang masih kusimpan bahkan sudah kukuburkan dalam-dalam dalam hati ini. Bukan ditempat ini:’)
Kujalani hari demi hari ditempat ini, aku sudah berinjak pada semester II yang membuatku lelah dengan hapalah dan hapalan yang membuat otak tak mampu untuk mengingat masa lalu karna telah penuh dengan memori untuk di responsikan pada bidangnya masing-masing. Seiring berlalu, mimpi itu masih saja tetap hidup dihati ini, ntah ia sudahku kuburkan dengan sepenuh hati ntah ia memang harus tetap hidup. Sempat terfikir untukku mencoba mengulang kembali pada mimpi itu. Mimpi untuk menjadi seseorang yang hidup dipulau ujung seberang sana. Namun kuberfikir, tidakkah kusudahmenghabiskan biaya dengan kehidupan yang sekarang? Namun ketahuilah, aku tidak memiliki titik nyaman disini, baik itu dari segi hati, kehidupan dikampus, tempat tinggal bahkan lingkungan sekalipun, yang hati ini tak dapat menahan untukku merindukan suasaan rumah, teman-teman yang entah dimana, bahkan untuk menahan kesendirian hati yang kurasa ntah kapan akan merasa lelah :’)