RANGKAIAN
SENYUMMU
Banyak yang ingin ku sampaikan. Dengan untaian kata-kata yang telah ku rangkai menjadi sebuah curhatanku saat ini. Untuk seorang yang aku banggakan. Seorang yang hadir dan selalu menemaniku. Dikala pahitnya kehidupan. Mylittle hero after my father and brotherJ untuk sebuah tulisan sebelum dia pergi dan tak kutemui didalam lingkup pagi sampai soreku.
Hari demi hari yang ku lewati. Aku sepi tanpa ada sebuah bintang
yang menghiasiku malam hari. Bukan untuk aku selalu mementingkan
egoku. Tapi hanya aku yang akan selalu mengerti kamu. Untuk saat
ini, bertemu atau selisihpun kita takkan pernah ada. Ketika kesibukan selalu
menghampirimu. Menghampiri hari2mu. Ku tau, kepadatan kesibukan itu, melarangku
untu berjumpa denganmu. Untuk memikirkanku pun kau takkan bisa. Dengan sedikit
waktu yang akan memisahkan kita nantinya. Saat kau berjuang untuk masa depanmu.
Aku selalu berdoa untuk perjuanganmu. Yang akan kau lalui. Dari kejauhan, aku
selalu berdo’a, kelak aku akan melihat kau tersenyum dengan semuah perjuanganmu.
Saat
ini, aku tersenyum didalam sepi. Tersenyum melihatmu, walau posisi ini
membuatku sepi. Tersenyumku untuk mu, agar kau bisa mencapai semua yang kau
impikan. Di balik sudut sana, seringku memperhatikan kelakukuanmu,
tingkahmu, yang terkadang membuatku tersenyum. Selayaknya ada kebanggaan
tersendiri saat aku melihatmu. Meski saat ini, aku tak pernah bertemu denganmu.
Satu
hari pernah kulewati. Dengan perasaan khawatir yang membuatku menjadi kacau.
Tak pernah ku melihatmu, maupun berjumpa denganmu. Yaah.. aku tau itu sangat
sulit untukku, sulit bertemu di atas kesibukan yang kau jalani. Aku khawatir,
dengan gejolak pertanyaan pertanyaan yang tertera di otakku. Dimana kamu? Sama
halnya dengan hari-hari berikutnya, ketika ku tak kunjung melihatmu. Apakah kau
hadir? Apakah kau sakit? Seringku bertanya pada hatiku. Hingga tak
kunjung ku dapati jawabannya.
Kau
tau? Untuk sebuah senyuman yang telah ku perhatikan sedari dulu, membawa
kebahagiaan tersendiri untukku. Meskipun senyuman dan kebahagian bukan tertera
untuk ku. Kini, senyum itu jarang ku temui. Jarang ku lihat dan jarang ku
pandangi. Aku kan mengerti, ketika kita harus terpisah dengan segala kesibukan
yang kau miliki. Dan disinilah aku, tersandar penuh kehampaan menanti kau
mlihat betapa aku selalu tersenyum ketika aku mendo’akan yang terbaik untukmu,
meski dalam sepi sekalipun.
Aku
akan mengerti dan selalu akan mengerti arti kesibukan yang kau
miliki. Aku ada, dan masih akan ada, berdiri dan terdiam di sudut
kegelapan,ketika kau mencari aku selalu ada disini. Ketika kau butuh aku hadir
menemani.
Melihat
senyummu, adalah bahagiaku. Meski takkan pernah lagi ku menatapmu. Senyum yang
jarang kutemui itulah yang ku harapkan kini. Mengisih waktu sebelum kau pergi.
Pergi untuk melewati mimpi dan takkan pernah ku pandangi di sudut tempat ku
berdiami. Adakah aku bisa melihat senyum itu
lagi? Terkadang, aku mencari-cari senyum itu, senyum yang tak ku
lihat karna asap kesibukanmu. Aku merasa sepi. Aku selalu bertanya.
Akankah di dalam asap kesibukanmu, kamu masih mengingatku? Apakah kau masih
memngkhawatirkanku? Sebuah pertanyaan yang ntah kapan akan
terjawab.
Aku
disini akan selalu mengerti dengan apa yang kau kini perjuangkan. Aku ada, selalu
untuk mendukung dan menyemangatimu ketika kau menyerah dan terputus asa. Aku
sadar, aku hanya orang yang selalu ingin mendo’akan yang terbaik untuk seorang
yang kusayangi. Dan aku tidak akan pernah memaksa untuk menghilangkan asap
kesibukanmu dengan memikirkanku. Tapi pikirkanlah bagaimana kau akan tersenyum
di atas kebahagiaanmu. Kini, hanya satu yang ingin ku sampaikan,
dengan pokok dan inti atas semua rangkaian kata-kataku. Aku sangat
merindukaaanmu. Merindukaan sebuah kebersamaan yang dulu juga terukir di
lembaran-lembaran kertas memori yang kita miliki.
Akankah ada saat bersama? Sebuah mimpi kecil yang entah kapan
terwujudnya:)
Meski
waktu tak sering mengizinkan ku bertemu maupun melihatmu, meski kita dalam satu
lingkup dan letak yang sangat tidak berjauhan. Namun aku kan tetap semngat dan
berjuang untuk selalu hadir memberikan semangat untuk seorang yang aku
banggakan. Mendo’akanmu adalah caraku memperhatikanmu. Kelak, jika kau sudah
bahagia dan dapat tersenyum, ingatlah saat kau tersenyum itulah bahagia
yangkumiliki. Tetap berjuang untuk masa depan yang akan kau
raih. Dan banggakan lah semua orang yang kau sayangi.
Kelak senyummu akan menjadi bahagiakuJ
untuk myhero yang kuperjuangkan selama ini. Goodluckõ
untuk myhero yang kuperjuangkan selama ini. Goodluckõ
DIBALIK SENYUM PERJUANGAN
Kau tahu kemana aku akan pergi?
Pergi mencari tempat
sandaran. Sandara luka dan kehampaan ini?
Malam memakan senjaku,
asa menelan pliku. Ku tempatkan dimalam itu, saat terbukanya lentera itu
ceritaku. Cerita yang telah ku ukir.
Aku
berdiri dari kenyataan. Berharap cahaya akan datang menemukanku. Berharap
harapan akan menemani kepahitan yang menyelimutiku. Asap keputusaaan yang
bergelombang datang menghadang seakan memberontakku untuk menyerah. Dengan 1
kata aku berdiri, ditengah hiu keputuasaanku mengelilingiku. Angin badai tanda
berhenti akan segera menerkamku. Dengan tegih ku berdiri, akankah satu kata itu
akan bisa menyelamatkanku, akankah bisa membahagiakanku? Kelak!
Terpuruk
ku melamunkan hal yang tak harus ku bayangkan saat ini. Hal bodoh yang bagiku
takkan pernah terjadi. Aku masih hidup dalam suasana sekolah, menyadarkanku
akan lamunan yang ku jajaki terlalu lama. Inilah yang sering ku lakukan,ketika
tak seorangpun pahlawan tanpa tanda jasa masuk untuk memberikan ilmu-ilmu yang
dia miliki. Hal yang paling kusukai dan aku gemari dari tempat lama kediamanku.
Sekarang aku jenuh. Jenuh akan suasana lingkungan yang telah kujajaki selama 2
tahun terakhir ini. Ku tahu ini sangatlah sulit untukku, menghilangkan
keterpaksaan yang mencekamku untuk terus disini,sampai nantinya akan kulaluinya
kelulusan pada tahun berikutnya.
Hidup
setiap harinya dengan dengan rasa hampa tak selamanya menguasaiku. Saat
indahnya kutemui senyum itu? Senyum yang telah bersamaku sedari ku pertama
menjadi alien di lingkungan ini. Dialah yang memalingkan kebosananku dalam
hidup penuh kehampaan. Dialah salah satu alasan kenapa aku masih tetap bertahan
disini. Dilingkup dengan keramaian anak-anak yang akan menuju kedewasaan
mereka. Disinilah tempat yang selalu menguras kehampaanku. Senyum itu.. kalian
tau? Senyum itu kunamakan perjuanganku.
Sebuah senyum yang mampu membuatku bertahan dari angin-angin kegalauan
yang selalu menerbangkanku. Ntah kemana itu. Sedarikupun tak pernah tahu.
Dengan
kulewatinya hidup yang kurasa harus aku jalani dan terpaksa harus ku nikmati.
Siapa sangka? Sekarang dimana aku harus
berdampingan ruangan yang belum lagi ini kuhuni dengan sebuah senyum itu. Yang
ku maksud aku harus menerima kenyataan bahwa bahwa setiap harinya nanti aku
akan bisa memeprhatikannya dari kejauhan, tidak begitu jauh bagiku, dari sudut
jendela ruangan yang kumiliki. Terhitung hari, senyum itu akan perlahan
menghilang. Bukan karna asap,bukan karna debu, dan bukan karna hujan, namun
karna waktu. Perlahan meninggalkanku dengan dunia kehampaanku. Tanpa ada senja
yang akan diukir, tanpa ada sapaan pagi yang sudah menjadi tabir, dan tanpa ada
senyum atas bibir. Waktu akan merampas berlahan kebersamaan itu, saat setiap
detiknya akan berlalu.
Ku
otak atik masa laluku. Disini bukan masa lalu yang waktunya dahulu kala, namun
masa lalu yang dulu nya pernah terjadi namun tak memiliki jangka waktu yang
cukup jadul. Masa yang telah ku habiskan bersamanya kuhadirkan semuah keiklasan
perjuanganku, meski itu bernilai murah, dan mengkin saja tiada arti kalau
ditempatkan pada logika. Saat ini betepatan pada pagi yang cerah tanpa ada asap
yang berkeliaran. Kujajaki sifat yang
paling kugemari dan telah ku teladeni sifat ini 4 tahun terakhir. Sifat lamunan
yang tidak pernah hilang dari diriku, ketikapelajaran membuatku merasa jenuh.
Ingin ku memulai ritualku, ritual mendatang hujan, hujan yang bukan sembarang
hujan, namun hujan penuh rasa. Rasa manis,pahit,asam,asin,maupun tawar yang
akan ku putar diritualku. Sebelum memulai ritual, gangguan aneh yang datang menggodaku. Terlihat seperti makhluk halus namun
dikatakan bentuk tidak halus melainkan kasar.
“Apuk!!
Satu teriakanku yang membuatku tiba-tiba
shock. Inilah salah satu makhluk terjahil yang inginnya tidak ingin ku kenal.
Terlalu seram untuk diceritakan. Dia adalah teman yang lumayan sedikit tidak
nakal, namun jahilnya berkelebihan. Pagi
ini ritualku hampir gagal hanya karna makhluk yang mengangetkanku jauh tak
beberapa senti dari kediaman telingaku. Shock! Itu yang kurasakan.
Pagi
ini apuk sukses mengagetkanku dengan hantaman pisau yang mencerkamku dari
belakang. Ya layaknya begitu. Tak beberapa lama setelah kejadian itu terjadi.
Aku Kembali pada posisi awal. Memulai ritual dengan gaya ala galau anak
zaman sekarang. Tertunduk dan terdiam. Seakan-akan ribuan masalah datang
menerkamku.
Baik, aku akan mulai ritualku dengan
lamunan pertamaku. Ku putarkan seribu memori yang dulu pernah aku membayangkan
bagaimananya dulu aku tersenyum di atas awan kepedihan dan rasa sakit yang
membius. Rasa kecewa telah menelanku ketika semuanya telah kulewati.
Waktu
itu, tepat pada saat bulan ramadhan. Kutemui perubahan sifat yang telah
memepngaruhi dia. Siapa dia? Dia yang kunamai perjuanganku. Tepat pada saat bulan itu, segala perubahan
yang mungkin tak pernah kukanali dan bagaikan alien yang sangat mengusikku.
Bukan dirinya, namun orang lain bagiku.
Untukku bulan itu adalah bulan penuh kepiluan,kekecewaan dan mungkin
kemuakkanku. Satu bulan yang penuh dengan urasan air mata dengan ketidak
perubahannya silih berganti.
Saat
massage terkadang hadir untuk
dibalas namun terkadang hanya terabaikan begitunya saja.
“siangJ”
Jenuh,waktu yang lama untukku
menunngu. Hingga beberapa jam kemudian.
“maaf ya, tadi ketiduran” balasnya.
“maaf ya, tadi ketiduran” balasnya.
“iya
ga apa, eh kamu lagi apa?” timbalku.
“ga
lagi ngapa-ngapa kok”
Satu menit, dua menit dan kesekiannya
aku harus menunggu diladang kehampaanku untuk menanti sebuah balasan yang
bagiku berarti. Keesokan harinya, dengan alur yang bertemakan sama dan cara
yang tak jauh berubah. Cuek yang selalu
mengiringinya dalam membalas pesan singkat itu membuat satu kesedihan untukku.
Ketika aku berpikir, adakah seseorang yang sedang menduduki hatinya untuk
sekarang selain aku?
Siang
penuh teriknya sinar yang menghambatku enggan keluar rumah. Mengelantarkanku di
atas tempat embuk yang kujadikan sandaran dan tumpuhanku atas semua
kelelahanku. Disana aku terbaring menatap layar mobile phone ku yang sangat akrab denganku. Nyanyian mengiringi
ketikan keypat yang nantinya akan ku kirim. Meski sekian lama kutunggu massage darinya yang kurindukan saat dia
memulainya. Namun tak kutemu saat ini. Aku menunggu hingga akhirnya, aku
mengalah! Dengan caraku aku rangkai kata lucu meski singkat namun itu mengawali
komunikasi kita.
“siang” kataku melalui massage saat itu.
“siang” kataku melalui massage saat itu.
“siang juga” tambahnya.
“lagi
apa kamu disana? Aku mengganggumu?” ucapku
“aku
lagi tiduran, tidak sama sekali
mengganggu” balasnya.
“eh
kamu mau tidur ya? “
“sorry
ya, aku tidur dulu, berat ni mata”
katanya.
“oh
iyadeh. Mimpi indah :’) “ balasku.
saat itu, kecewa pun datang. Ketika setiap harinya harus kulalui begini rupa. Gerangan apa yang terjadi denganmu? Senyum itu. Tak pernah kulihat lagi.
saat itu, kecewa pun datang. Ketika setiap harinya harus kulalui begini rupa. Gerangan apa yang terjadi denganmu? Senyum itu. Tak pernah kulihat lagi.
Sore itu, aku menunggu. Tak henti
menunggu, saat ku tau saat itu dia akan pergi bubar atau buka bareng di
kediamaan wali kelas nya. Aku lelah hingga akhirnya kekhawatiran ini
menyeruaiku untuk mengucapkan kalimat “hati-hati dijalan sayang” melalui via
sms meski saat itu keadaan memaksaku untuk menunggu balasan yang tak kunjung
datang.
Adakah kau masih mengingatku
Malam datang berganti
baju dengan senja. Hampa lamunanku untuk menunggu satu balasanpun tak kunjung
kusesali. Aku tidak menyerah. Hingga 2 mahkluk datang bagaikan peri yang
kesepian mencari tempat untuk meluapkan tumpukan cerita demi cerita. Mereka
datang dengan senyum seakan mengasih sinyal antar baik dan buruknya berita itu.
Ya mereka teman-temanku, yang parasnya
ga pernah terlihat aneh dengan cerita yang menurutku selalu hangat mereka
bawakan. Mereka bercerita ddengan gelombang naik turunnya kejadian yang mereka
alami. Betapa pusingnya aku menyaring semua cerita mereka. Namun campuran
aduknya cerita mereka yang sempat aku cerna melintaskanku dengan satu cerita
yang selintas mengagetkanku dan manarik perhatianku untuk mendengarkan semua
uraiang cerita tersebut. Beberapa lama setelah cerita itu, ketika kembalinya
mereka ke tempat kediaman mereka. Aku termenung dan berkali-kali berpikir untuk
menahan kekecewaan itu. Saat ku tau dia berasa menghianatiku. Bermain
dibelakangku dengan landasan semua perubahannya hanya karna sebuah cinta yang
datang secara tiba-tiba? Terjawab sudah pertanyaan yang dulunya kutanyakan pada
diriku sendiri.
Dia! Seorang yang mungkin baru senyum itu
temui, dan mungkin saja baru saja mendarat dihatinya. Dengan mudahnya berpaling
tanpa mengenal bagaimana aku harus tertindas perubahan yang begitu sulit untuk
kujalani saat itu. Waktu itu juga, hati berasa kapas yang terombangnya oleh
angin. Namun aku kecewa dalam diam. Memendam perasaan sakit yang saat itu tak
dapat kubendungi lagi dengan air mata.
Kecewa! Itu yang ku tahan untuk sebuah waktu yang tepat. Waktu dimana
rasa sakit ini akan tayang dihadapanmu.
Waktu yang terasa
begiku cepat, mengusaikan air mata dan kekecewaan itu. Meredakan genangan luka
yang dulu menjadi lautan di pikiran ini. Namun tak jauh dari itu, cerita dengan
tema sama mendatangiku dengan gejolak yang membuat kesabaran ini hilang dan tak
dapat lagi terkendalikan. Mmuak! Itulah perasaan yang aku rasakan. Saat ku tau
dia tak sekedar bertemu namun juga sering bertukar pengalaman tanpa kutahu apa
itu ceritanya dan apa itu judul yang mereka namai. Dibelakang penuh
keromantisan seakan aku berada di depannya seperti makhluk halus, ada namun
tidak terlihat. Diam,diam,dan baarh!!
Aku tidak bisa menahan semua luka yang tersembelit di dasar kedudukan hati
ini. Aku katakan semua yang aku rasakan
tanpa aku enggan berpikir apakah alasan yang ia lontarkan itu benar atau salahnya. Dan dalam
kenyataannya. Dimana hari saat itu aku tidak mempercayai apa itu kejujuran atau
kebohongan sekalipun. Sebuah senyum penuh kasih sayang, datang temaniku demi
untuk menghianati. Aku hampa, saat semua telah terjadi dengan semua kejadian
yang kini kutahu apa arti perubahannya itu. Seperti yang dinyanyikan republik “
kau dengannya seakan ku tak tau, air mata ini tak lagi mau menetes”
Beberapa bulan berlalu
setelah kejadian yang menguras nadi hati dan sembilu luka mengantarkanku dengan
dunia kedamaian meski hubungan ini penuh
perjuangan. Untuk sebuah harapan pertahanan yang akan kutegakkan meski harus
rela terluka. Karna yang telah lama bersamaku, akan kuperjuangkan meski itu
terlihat sulit, namun semua caraku yang akan bekerja. Ku lewati hari yang
kadang penuh dengan percikan-percikan kekecewaan yang mengundang luka.
Berhubungan dengan tanya kekecewaan. Segelintir kekecewaan hadir di selala
komunikasi yang terbilang cukup membuat sedih. Sedikit sedih, sedikit kecewa
dan bertumpuk menajadi luka hingga pilu lah yang terasa. Di selah komunikasi
yang melalui alat transportasi elektronik yang sangat canggih. Alat ini dapat
mengantarkan satu suara dari sudut kota ini ke kota lainnya dengan waktu yang
sama. Keren bukan? Alat canggih yang mengkoneksikan
komunikasi antara aku dengan dia. Senyum itu!
Telponan
salah satu cara komunikasi jarak jauh yang telah aku jalani dengan nya selama
satu tahun ini. Di pembicaraan yang kadang tak tahu apa yang harus di gelar
judul.
Di dalam komunikasih itu tersebut, ku
jumpai hal-hal yang membuat hati lirih dan terkadang galau. Keteika di dalam
pembicaraan terlintas kalimat yang menyeruakkan hati. Namun diamlah saat itu
menggomandoku.
“sayang, sebenarnya aku suka cewek
yang putih. Kamu jang panas-panas ya”
spontan aku terselimuti dengan diamku. Seakan-akan petir menghadang bagai memberi sanksi atas kesalahanku. Bertolaknya aku melawan kecewa dengan senyum. Seakan-akan akulah berlagak seperti hero yang terlihat kuat,namun untuk jadi heropun saat ini aku tak bisa. Kuperbaiki keadaan yang mulai sepi tanpa kata, dengan senyum seakan tak ada yang terjadi padaku. Dalam diam nya tangis..
apakah kau menerima dengan apa adanya aku?
spontan aku terselimuti dengan diamku. Seakan-akan petir menghadang bagai memberi sanksi atas kesalahanku. Bertolaknya aku melawan kecewa dengan senyum. Seakan-akan akulah berlagak seperti hero yang terlihat kuat,namun untuk jadi heropun saat ini aku tak bisa. Kuperbaiki keadaan yang mulai sepi tanpa kata, dengan senyum seakan tak ada yang terjadi padaku. Dalam diam nya tangis..
apakah kau menerima dengan apa adanya aku?
Saat
itu aku mali sadar akan kekurangan yang telah kumiliiki sedari dulu. Meski aku tahu, semuanya takkan
berubah. Tak lama setelah itu, kunjungan dengan tema yang sama datang selayak
membawa luka dengan kejujuran yang telah ia lontari perlahan.
Malam itu..
“jujur ya sayang, aku itu suka cewek yang tinggi, kurus. Jadi kamu diet ya.”
kalimat yang selintas sederhana namun memberontak hati untuk bersedih. Badai, ya badai isakan hampir terdengar hingga kuselubingi semunya dengan senyum yang pahit untuk kunikmati.
“hehe, emang aku gendut ya sayang^^ “ jawabku
dengan hati menegakkan tegar untuk tersenyum. Untuk kelancaran tanpa ada kehancuran dalam komunikasi malam itu. Bersandiwara didalam tangis yang tertahan.
sayang, kapan aku menjadi yang terindah?
“jujur ya sayang, aku itu suka cewek yang tinggi, kurus. Jadi kamu diet ya.”
kalimat yang selintas sederhana namun memberontak hati untuk bersedih. Badai, ya badai isakan hampir terdengar hingga kuselubingi semunya dengan senyum yang pahit untuk kunikmati.
“hehe, emang aku gendut ya sayang^^ “ jawabku
dengan hati menegakkan tegar untuk tersenyum. Untuk kelancaran tanpa ada kehancuran dalam komunikasi malam itu. Bersandiwara didalam tangis yang tertahan.
sayang, kapan aku menjadi yang terindah?
Dalam hal yang sama terulang. Ketika
kejujuran yang berbeda namun halnya tujuan yang sama. Ketika komunikasi itu
sedang berlangsung, secara tiba-tiba..
“aku boleh jujur ga? Tapi kamu jangan marah. Ini untuk
kebaikan kamu juga”
“iya bilang saja” ujarku.
“kalau boleh jujur aku ga suka cewek yang update semua kegiatannya di media sosial bukannya melarang tpi apa harus semua aktifitas harus di update disana” balasnya
“iya bilang saja” ujarku.
“kalau boleh jujur aku ga suka cewek yang update semua kegiatannya di media sosial bukannya melarang tpi apa harus semua aktifitas harus di update disana” balasnya
ku jauhkan mobile phone ini jauh dari tempat panca indra ku berada. Yang akan
ku tahu, disana dia akan berbicara semua kekuranganku yang takkan pernah dia
sukai. Semuanya sama saja, akan membuatku rapuh dan jatuh di kekecewaaan yang
sama. Aku sabar, dan aku akan tegar untuk segumpal rasa sakit yang
menyelimutiku. Aku mampu tersenyum dalam hal yang kulewati ini. Meski didalamnya suara tangisan ku katakan
seribu maaf. Maafkan aku dengan semua kekuranganku
Hari
yang kulewati begitunya detik dan menit selalu berganti, ketika waktu membuat
aku akan terbiasa dengan semua luka yang menimpah. Letusan luka dan kekecewaan
sudah menjadi satu bencana hati yang bagiku sudah biasa kudapati. Dengan hati
yang perlahan mulai lelah memepertahankan ini.
Kejadian yang tak satu namun seribu yang kumiliki mengantar sebelit luka
yang cukup membuat semua menjadi terbiasa.
Di dunia nyataku, aku tersadar dari semua ritual yang aku pun ga pernah
tau, kemana aku pergi tadi. Ritualku kacau ketika ku dengar nyanyian bel yang
berarti waktu untuk bersenang-senang. Teman-teman mengajak ku untuk pergi ke
tempat dimana beribu makanan barada disana. Yah, dengan lesu, ku akhiri khayal
lamunanku, yang ku namai ritual pagi bisu. Bercerita tentang satu dari seribu
luka yang dulu pernah dirasa. Bersama senyum itu. Senyum yang bersama beberapa
tahun terakhir. Ketika dia mimpi terindah. Ketika 1
kata perjuangan yang ku genggam untuk bertahan. Untuk sebuah senyum
kecilku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar